“Keadaan paling dekat seorang hamba dari rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya).” (HR. Muslim)

Tidak Meminta-Minta



Meminta-minta adalah sikap yang sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah Saw.. Demikian juga para nabi dan rasul sebelum beliau, tidak ada yang mengajarkan untuk meminta-minta kepada manusia. Para utusan Allah Swt. justru memberikan keteladanan berupa kemandirian.
Sejak belia, nabi Muhammad Saw. sudah bekerja sebagai penggembala. Saat beranjak dewasa, beliau bekerja sebagai pedagang. Bagaimana dengan nabi-nabi sebelumnya? Nabi Nuh AS. adalah seorang tukang kayu, nabi Musa AS. adalah penggembala, dan nabi Daud AS. adalah seorang pandai besi. Ini adalah sebagian keteladanan yang dicontohkan oleh para utusan Allah Swt. dimana mereka mengajarkan kepada kita untuk tidak hidup dari meminta-minta kepada manusia.
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Saw. bersabda,
“Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada manusia. Mereka memberinya atau tidak memberinya”.[HR. Bukhari]


Saudaraku yang dirahmati Allah, sesungguhnya meminta-minta itu bukanlah perbuatan yang diajarkan dalam Islam. Bahkan, hukum asalnya pun adalah haram. Meminta-minta hanya dibolehkan untuk keperluan yang berkenaan dengan kepentingan umum umat Islam, seperti untuk pembangunan sarana peribadatan, pendidikan, bantuan untuk fakir-miskin dan anak-anak yatim.
Namun, untuk kepentingan seperti tersebut di atas pun, tetap harus diperhatikan cara melakukannya. Yaitu, dengan cara mendatangi orang-orang yang memiliki kelebihan harta kekayaan kemudian membicarakan keperluan-keperluan itu dengan baik. Atau dengan mengumumkan keperluan-keperluan itu di masjid, atau cara lain yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Fenomena meminta-minta yang seringkali kita temukan saat ini di mana banyak sekali bagian dari umat ini yang meminta-minta di jalanan, itu bukanlah hal yang patut dilakukan. Karena, selain tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw., tata cara seperti itu juga bisa menimbulkan citra yang kurang baik bagi Islam dan kaum muslimin.
Namun, apakah umat Islam dilarang secara total dari perbuatan meminta-minta atau adakah golongan yang dikecualikan? Salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yaitu Qabishah bin Mukhariq al Hilali RA. meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah berkata kepadanya,
“Wahai, Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah seorang dari tiga macam: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti (tidak meminta-minta lagi), (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan “Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan,” ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain tiga hal itu, wahai Qabishah, adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”.[HR. Muslim]
Betapa tidak terhormatnya sikap meminta-minta ini hingga Rasulullah Saw. bersabda,
“Seseorang senantiasa minta-minta kepada orang lain hingga ia akan datang pada hari Kiamat dengan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”.[HR. Bukhari]
Dalam hadits ini Rasulullah Saw. bermaksud untuk menegaskan betapa buruknya perilaku kebiasaan meminta-minta kepada manusia. Dengan hadits tersebut di atas, Rasulullah Saw. menyampaikan bahwa di akhirat kelak, wajah orang-orang yang terbiasa meminta-minta kepada manusia selama hidup di dunia, tidak akan terdapat daging pada wajahnya, yang nampak hanyalah bagian tengkoraknya saja.
Kondisi ini adalah hukuman bagi orang-orang yang enggan melepaskan diri dari kebiasan untuk meminta-minta tanpa sedikitpun ada rasa malu di dalam dirinya.
Islam mensyariatkan kepada para pemeluknya dari sikap mental peminta-minta. Maksud sikap meminta-minta ini adalah ketika seseorang terbiasa hidup dari meminta-minta kepada orang lain, baik uang ataupun hal-hal lainnya, meski sebenarnya hal-hal yang dia pinta itu bukanlah sesuatu yang ia butuhkan secara mendesak.
Di dalam Al Quran Allah Swt. berfirman:
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan, apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 273).


Tentang ayat ini, Ibnu Katsir menerangkan bahwa di dalam ayat ini Allah Swt. berkehendak agar umat-Nya tidak memelas dalam meminta-minta kepada manusia dan juga supaya mereka tidak meminta dengan memaksa kepada manusia, meminta sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Karena, orang yang meminta-minta padahal sebenarnya dia memiliki sesuatu yang bisa mencegahnya dari meminta-minta, maka sungguh orang itu termasuk yang meminta-minta kepada manusia secara paksa.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA., Rasululah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang meminta-minta harta orang lain untuk dikumpulkannya maka sungguh dia telah meminta barak api jahannam, maka hendaklah dia mempersedikitkannya atau memperbanyakannya”. [HR. Muslim]
Untuk memperkuat penjelasan tentang jeleknya sikap meminta-minta, mari kita simak ulasan Abu Hamid Al Ghazali.Ia memaparkan, “Pada dasarnya meminta-minta itu adalah haram, namun dibolehkan karena adanya tuntutan atau kebutuhan yang mendesak yang mengarah kepada tuntutan, sebab meminta-minta berarti mengeluh terhadap Allah, dan di dalamnya terkandung makna remehnya nikmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada hamabaNya dan itulah keluhan yang sebenarnya. Pada meminta-minta terkandung makna bahwa peminta-minta menghinakan dirinya kepada selain Allah Ta’ala dan biasanya dia tidak akan terlepas dari hinaan orang yang dipinta-pinta, dan terkadang dia diberikan oleh orang lain karena faktor malu atau riya, dan ini adalah haram bagi orang yang mengambilnya”.
Dari Samuroh bin Jundub RA. bahwa Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta itu sama seperti seseorang menggores wajahnya sendiri kecuali jika dia meminta kepada penguasa atau meminta karena darurat”. [HR. At Tirmidzi]
Di dalam kehidupan kita saat ini, kita menemukan bahwa meminta-minta tidak lagi hanya didasarkan karena keterpaksaan belaka. Ada orang-orang yang menjadikan cara meminta-minta kepada manusia sebagai cara mereka memperoleh penghidupan. Mereka meminta-minta dalam keadaan yang tidak terpaksa karena sebenarnya mereka tidak sedang benar-benar membutuhkan apa yang mereka pinta. Bahkan, ada juga yang menjadi peminta-minta padahal kehidupannya tidak terkategori sebagai orang yang kekurangan.
Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad Saw. telah menjelaskan standar kaya yang mengharamkan seseorang untuk meminta-minta.
Hadits ini diriwayatkan oleh Sahl bin Hanzhalah, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “Barangiapa yang meminta-minta padahal dia memiliki apa yang membuatnya berkecukupan maka sesungguhnya dia memperbanyak meminta neraka jahannam. Para sahabat bertanya, “Apakah ukuran yang menjadikan seseorang dikatakan berkecukupan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Apa yang bisa membuat dia makan dan menyambung hidupnya”.
Sahabatku yang mulia, sesungguhnya panutan kita, Muhammad Saw. sangat menghargai dan menyukai pekerjaan seseorang meskipun hanya menghasilkan upah yang sedikit, ketimbang orang yang hanya menengadahkan tangannya kepada orang lain. Meskipun pekerjaan seseorang itu hanya pedagang asongan, buruh bangunan, atau pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menurut sebahagian pandangan masyarakat kita dinilai sebagai pekerjaan yang remeh, itu adalah sebuah kebaikan yang teramat besar dibandingkan orang yang hanya mengandalkan hidupnya dari meminta-minta kepada orang lain.
Dalam sebuah keterangan dari Zubair bin Awwam RA. Disebutkan bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya salah seorang dari kalian mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggungnya, sehingga dengannya ia dapat bersedekah dan mencukupi kebutuhannya (sehingga tidak meminta kepada) orang lain, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik ia memberinya atau menolak permintaannya. Karena tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah. Dan mulailah (nafkahmu dengan) orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu.” [HR. Muttafaqun ‘alaih]
Saudara-saudaraku yang dicintai Allah, demikianlah ketujuh wasiat yang disampaikan oleh suri teladan kita Muhammad Saw. kepada sahabatnya yaitu Abu Dzar Al Ghifari RA.. Meskipun wasiat atau nasehat ini ditujukan kepada Abu Dzar RA., akan tetapi yang dimaksud oleh Rasulullah Saw. adalah seluruh umatnya hingga masa kini dan masa nanti. Termasuk kita, termasuk anda, termasuk saya.
Segala yang diwasiatkan Rasulullah Saw. tiada lain dan tiada bukan adalah sebagai pedoman bagi kita untuk bisa meraih kebahagiaan hidup baik di dunia dan di akhirat. Tak ada satupun wasiat yang beliau sampaikan dengan tanpa tujuan apalagi dengan kesia-siaan. Semoga kita bisa mengamalkan ke-tujuh wasiat Rasulullah Saw. ini sehingga kita menjadi bagian dari golongan orang-orang yang oleh Allah Swt. diberi kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.


( Aa Gym )

Renungan Pagi [Ust. Yusuf Mansur]




Sumber : Ust. Yusuf Mansur

Makhluk yang Paling Membingungkan adalah "Manusia"
Karena dia "Mengorbankan Kesehatannya" hanya "Demi uang", Lalu dia "Mengorbankan Uangnya" demi "Kesehatan".
Lalu dia Sangat Khawatir dengan Masa Depannya, Sampai dia Tidak Menikmati Masa Kini.
Akhirnya dia "Tidak Hidup di Masa Depan atau pun di Masa Kini"; dia "Hidup Seakan-akan Tidak Akan Mati", lalu dia "Mati" tanpa "Benar-benar Menikmati" apa itu "Hidup".

Bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan kita nikmati.
Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok.
Ketika lahir dua tangan kita kosong...
ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...
Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa-apa...
Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan..
Jangan minder karena miskin dan hina...

Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman...
TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita...
TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita...
Karena kita hadir tidak membawa apa-apa dan kembali juga tidak membawa apa-apa...
Hanya pahala kebajikan atau dosa kejahatan yang dapat kita bawa.

Jum'at Mubaroq



“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam \\diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah 
seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintaannya.” (HR. Hurairah dan Muslim)
"Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)
"Sedekah pada hari Jum'at dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab menjelaskan: "Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya".(Mauquf Shahih)
"Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari).
Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah". (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah)
“Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)
آللّهُمَ صَلّ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ

Doa Meluluhkan Hati Seseorang



Jibril Mengajar Nabi SAW Berdoa

Banyak orang yang bertanya,“Bagaimana doa meluluhkan hati seseorang? Berikut kami  cantumkan Hadits tentang doayang dimaksud:
ألا أعلمك ما علمني جبريل إذا كانت لك حاجة إلى بخيل شحيح أو سلطان جائر أو غريم فاحش تخاف فحشه فقل : اللهم إنك أنت العزيز الكبير وأنا عبدك الضعيف الذليل الذي لا حول ولا قوة إلا بك ، اللهم سخر لي فلانا كما سخرت فرعون لموسى ولين لي قلبه كما لينت الحديد لداود فانه لا ينطق إلا باذنك ناصيته في قبضتك وقلبه في يدك جل ثناء وجهك يا أرحم الراحمين.

Artinya:
(Nabi SAW bersabda "Maukah kau kuajar yang pernah Jibril AS ajarkan padaku? Ketika kau mempunyai hajat pada orang sangat pelit lagi kikir, atau penguasa jair (tidak adil), atau orang keberatan hutang yang jahat, maka berdoalah:
'Allaahumma innaKa Antal Aziizul Kabiir. Wa ana abduKa Adhdhoiifudzdzaliil. Alladzii laa chaula wa laa quwwata illaa biK. Allaahumma sakhkhir lii ...((1) sebutlah nama orang kau maksud) kamaa sakhkhorta Firauna li Muusaa. Wa layyin lii qolbahuu kamaa layyantalhadiida li Daawuuda. Fa innahuu laayantiqu illaa bi idzniK.  Naashiyatuhuu fii qobdhatiK. Wa qolbuhuu fii YadiK. Jalla tsanaau WajhiK. Ya Archamar Roochimiin. 

Artinya:
Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya hambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Engkau. Ya Allah, tundukkanlah........(1) padaku, sebagaimana Kau telah menundukkan Fir’aun pada Musa AS. Dan luluhkanlah hatinya untukku, sebagaimana Kau telah meluluhkan besi untuk Daud AS. Karena sungguh dia takkan berbicara kecuali dengan IzinMu. Ubun-ubunnya dalam GenggamanMu, dan hatinya di TanganMu. Pujian WajahMu telah agung, wahai yang lebih sayang daripada para penyayang.

Arabnya:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الَّذِيْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِيْ فُلَاناً كَمَا سَخَّرْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى وَلَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُدَ فَإِنَّهُ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِإِذْنِكَ نَاصِيَتُهُ فِيْ قَبْضَتِكَ وَقَلْبُهُ فِيْ يَدِكَ جَلَّ ثَناَءُ وَجْهِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ



(1) 
Ada yang bertanya “Bolehkah setelah Allaahumma sakh-khirlii ….titik-titiknya diisi lafal 'qalba (sebelum) fulan/fulanah (anu)?” Saya menjawab, “Tidak boleh, itu salah besar. Yang benar Haditsnya, langsung sebut namanya, tidak perlu ditambahi lafal 'qalba'."

Meskipun banyak yang melakukan demikian, tetap salah. Karena Jibril mengajarkan pada nabi SAW, untuk menundukkan orang (bukan hati), dan meluluhkan hati. Jadi, kalau hati diluluhkan, kalau orang ditundukkan. Dalam kaidah bahasa Arab, "Sakh-khara, atau 'sakh-khir'," Adalah penundukan yang bisa dinikmati. Seperti sakh-khara lanaa haadzaa. Atau penundukan pada yang bisa diperintah. Penjelasan ini bisa dirujukkan pada Firman:
1.     {إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ} [ص: 18].
2.     {أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ} [الحج: 65].
3.     {أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً} [لقمان: 20].
4.     اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [الجاثية: 12]’.
5.     {سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } [الزخرف: 13]’.
6. 'Lafal 'sukhriyyaa' dalam Al-Qur'an, berasal dari 'kata' yang sama. Biasanya diartikan perintah: قَوْلُهُ تَعَالَى: {لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا} [الزخرف: 32]'.

Rahasia API vs AIR



Assalamu'alaikum sobat netter...
Mari jadikan media internet sebagai wahana silaturahmi, sharing ilmu dan informasi yang bermanfaat. Semoga Allah ridho pada kita, amien ya Rabb.

Kali ini saya mencoba menulis artikel mengenai Air dan Api. Kedua unsur yang saling bertolak belakang, saling berseberangan dan berlawanan arah. Adapun tujuan saya menulis ini adalah untuk pembelajaran dalam menyikapi fenomena yang terjadi pada diri kita. Semua saya tulis dari sudut pandang saya sendiri. Jika ada kesalahan / kekeliruan mohon dimaafkan dan semoga sudi tuk memberi saran yang bermanfaat.


Sebelumnya marilah kita cermati beberapa kalam berikut ini.
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran – 134)

Dari Abu Hurairah Ra., seorang lelaki berkata pada Rasulullah Saw, berilah saya nasehat. Rasulullah Saw bersabda “Janganlah engkau marah” Rasulullah mengulang-ulang pada ucapannya. (HR. Bukhari)

API
Mari kita telaah mengenai "api" tentang sifat, karakter dan tabiatnya. Ia memiliki sifat kurang lebih seperti ini:
  1. Panas , jika pada manusia gampang menyulut emosi,  amarah
  2. Keluar tenaga lebih banyak (boros)
  3. Arahnya selalu ke atas (berlawanan dg Bumi)
  4. Hanya mampu padam oleh "air"
Api jika digambarkan pada diri manusia adalah sebagai sifat dan tabiat yang tidak baik. Gampang emosi, Temperament, menyulut amarah dan sombong/angkuh. Sehingga berEfek pada diri sendiri yaitu: 
  • hidup menjadi resah, gelisah tak tenang 
  • tenaga cepat habis, berimbas pada sel - sel tubuh jadi Cepat TUA dan Kulit kering
  • arah api selalu keatas meskipun sudah diarahkan kebawah, artinya menggambarkan sifat SOMBONG /Angkuh senang meninggikan diri, membanggakan diri yang berlebihan
  • tidak kenal kompromi dan gampang tersinggung
  • memicu banyak penyakit kronis pembuluh darah (tekanan darah tinggi, jantung, struk)
  • Jauh dari rahmat Allah
  • gampang banget bikin retak persahabatan, persaudaraan
  • Tidak mau mengalah Tapi pada akhirnya PASTI kalah.

    AIR
    1. Sejuk dan segar
    2. Tenang dan selalu jernih (tidak berwarna). adapun berwarna merah, hijau dsb itu karena adanya zat lain.
    3. Arahnya selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah
    4. Mengalir alami dan tak dapat dihambat oleh apapun. Misal : suatu aliran air yg sangat deras dan dibendung dg tandau yg sangat kuat sekalipun bisa jebol.
    Makna dari sifat dan tabiat air:
    Jika divisualisasikan pada diri manusia merupakan gambaran dari karakter yang TULUS, teposliro, menghormati, MENYEJUKKAN suasana.

    Biasanya pembawaan orang dengan karakter air adalah:
    • Tenang
    • Grapyak (suka salam dan menyapa)
    • berpikir jernih, sehingga biasanya orangnya SMART, Dewasa
    • SUSAH untuk emosi dan tidak temperament
    • selalu RENDAH HATI
    • senang memaafkan dan menjunjung tinggi persaudaraan
    • cenderung mencari solusi daripada melanggar aturan
    • mengakibatkan sel - sel tubuh lebih efisien sehingga awet muda, jauh dari penyakit
    • SATU-SATUnya yang Bisa Mengalahkan "api"
    • Kekuatannya luar biasa mampu menghanyutkan apasaja, mampu hancurkan benteng yang sangat kuat sekalipun.
    • Suka MENGALAH dan pada akhirnya mampu MENGALAHKAN (alias jadi pemenang).
    Nah... sobat dari tulisan diatas pasti sudah kita tau nih bagaimana sikap kita jika ada orang dengan karakter api.
    Sobat tidak perlu takut, tak perlu menghindar. HADAPI saja.... tak peduli badannya kekar, punya banyak pasukan, punya kekuasaan ataupun lainnya. Percayalah dengan LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (tak ada daya dan kekuatan kecuali milik ALLAH Ta'ala).

    Ingat Api bisa musnah hanya oleh "Air". So.... keep kalem, tenang, dalam menghadapi orang-orang dengan perangai Api. Lawan dengan kejernihan pikiran, kedewasan dan kesantunan. InsyAllah mereka LULUH dan Takluk. wallahu a'lam bishawab.

    Dan jika kita sudah tau karakter Api yang hanya cenderung merugikan lalu kenapa kita masih berperangai seperti api?? Tak ada untungnya, tak ada guna tak ada manfaat. Buanglah jauh - jauh sifat tabiat Api dari diri kita. Tak ada yang didapat dari sifat api kecuali kerugian dan kehancuran.

    Astagfirullah robbal baroya... Astagfirullah minal khotoya



    Mengapa Nabi Isa yang diturunkan Saat Menjelang Kiamat?



    Salah satu tanda akan terjadinya kiamat besar adalah turunnya Nabi Isa alayhissalam dari langit ke bumi. Sebagian orang menganggap Nabi Isa sudah wafat. Yang benar adalah beliau diangkat oleh Allah ke langit, bersama ruh dan badannya. Dengan demikian, beliau masih hidup di langit dan akan turun pada akhir zaman. Ini adalah salah satu keyakinan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

    Hadits-hadits yang membicarakan turunnya Nabi Isa pada akhir zaman sangat banyak. Menurut Ibnu Katsir lebih dari 18 hadits. Mayoritas haditsnya mutawatir, karena lebih dari 25 orang sahabat meriwayatkannya, lebih dari 30 orang tabi‘in meriwayatkannya, dan lebih banyak lagi dari kalangan tabi‘ at-tabi‘in. Sehingga tidak mengherankan hadits-hadits tentang turunnya Nabi Isa disebutkan imam-imam hadits dalam kitab-kitab hadits mereka. 

    Ada orang alim dari India yang mengumpulkan hadits-hadits itu dalam satu buku. Namanya Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, yang menuliskannya dalam karyanya at-Tashrih bi Ma Tawatir fi Nuzul al-Masih. 

    Mengapa Allah swt. menurunkan Nabi Isa pada akhir zaman? Beberapa ulama menyebutkan hikmahnya, antara lain: 

    Pertama,, sebagai bentuk sanggahan terhadap orang-orang Yahudi yang menduga bahwa mereka telah membunuh Isa. Maka Allah menjelaskan kebohongan dugaan mereka, bahkan Nabi Isa sendiri yang akan membunuh orang-orang Yahudi dan gembong mereka yang bernama Dajjal. 

    Kedua, sebagai bentuk sanggahan kepada orang-orang Nashrani yang telah menyifatinya dengan sifat-sifat yang tidak benar, seperti bahwa Isa adalah Tuhan dan anak Tuhan. Nabi Isa akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menolak jizyah (upeti). 

    Ketiga, Nabi Isa membaca Injil yang di dalamnya ada berita tentang keistimewaan ummat Muhammad saw. Oleh karena itu, beliau berdoa kepada Allah agar menjadikannya salah satu ummat Muhammad. Allah mengabulkan doanya dengan mengangkatnya ke langit, dan pada akhir zaman akan diturunkan kembali ke bumi. Ayat yang dibaca Isa dalam Injil adalah sebagaimana yang dijelaskan al-Quran surat al-Fath ayat 29, 

    ‘…Demikianlah sifat-sifat mereka (ummat Muhammad) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, sehingga tunas itu membuat tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas akarnya…’ 

    Imam Malik rahimahullah berkata, ‘Telah sampai informasi kepadaku bahwa ketika orang-orang Nashrani melihat sahabat-sahabat Rasul yang berhasil menguasai negeri Syam, mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya mereka lebih baik dari al-Hawariyyin (para sahabat Nabi Isa)’.’ 

    Bahkan, Imam adz-Dzahabi dalam karyanya Tajrid Asma’ al-Shahabah berkata, ‘Isa bin Maryam adalah seorang Nabi sekaligus sahabat Rasulullah, karena beliau pernah melihat Rasulullah pada malam Isra, lalu beliau mengucapkan salam kepada Rasulullah. Beliau adalah sahabat Rasulullah yang matinya paling akhir’. 

    Keempat, turunnya Nabi Isa ke bumi adalah menandakan bahwa ajalnya sudah dekat dan akan dikuburkan di bumi, karena makhluk yang tercipta dari tanah akan kembali ke tanah. 

    Kelima, sebagai bentuk penghormatan bahwa Rasulullah lebih mulia dibanding dirinya. Bahkan Nabi Isa pernah berkata kepada para ummatnya bahwa akan datang seorang Rasul sesudahnya. Dalam al-Quran, perkataan Nabi Isa itu terdapat dalam surat as-Shaff ayat 6, 

    ‘Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)…’ 

    Lalu, ketika Nabi Isa turun ke bumi, apakah beliau membawa agama baru? Jawabnya: beliau turun tidak membawa agama baru, karena Islam adalah agama paling akhir dan tidak ada Nabi setelah Muhammad saw. Nabi Isa turun untuk menjadi pengikut umat Muhammad saw, menjadi hakim (pemimpin) yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi, menolak jizyah (upeti), dan meluruskan umat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Islam.

    Wasiat Dahsyat Penolak Kefakiran



    Sumber: Eramuslim

    Islam itu sangat solutif, berbahagialah bila engkau seorang muslim, apalagi seorang muslim itu adalah enterpreuner (red. Pengusaha), kalaulah dia yakin akan jalannya, untuk berjihad di dunia melalui bisnis, tentulah dia memiliki dua ujung mata pedang dalam langkah perjuangannya, yaitu pertama : Ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menjemput rezeki, dan kedua :Kekuatan amalan ibadah dan doa.
    Kedua mata pedang tersebut saling menguatkan, kedua mata pedang tersebut menambah kekuatan keyakinan hamba atas kekuasaan Yang Maha Kuasa. Logika bisnis dan usaha kadang-kala menjadi terbalik, bahkan hasil yang di raih pun seringkali ilmu matematika ataupun indikator ekonomi tak mampu menjangkau.
    “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 35:2)
    “Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang di kehendaki Nya di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi Rezeki yang sebaik baiknya” (QS 34:39)
    Pada saat krisis tiba, niscaya mereka para pribadi muslim haruslah merasa yakin dan tetap tenang. Mereka tidak gundah atas berita yang beredar di media masa, mereka tidak turut serta menggaungkan senandung yang sama dengan kaum yang lain , mereka punya sikap yang unik dan berbeda dengan kaum yang lain, alasannya karena mereka punya keyakinan yaitu mereka memiliki ALLAH, PEMILIK SEGALA KEPUTUSAN, PEMBERI REZEKI.
    Seringkali ummat islam terlupakan adanya kekuatan ujung mata pedang yang kedua ini yaitu kekuatan amalan ibadah dan doa , sebahagian ummat islam sekarang cenderung mengikuti pola manajemen barat yang serba ‘sebab akibat’ secara rasional, yang tentunya paham barat tersebut telah nyata melupakan faktor Tuhan sebagai Penentu. Walaupun sebagian mereka berhasil dalam usahanya, maka hasil kerja yang di dapat paling tidak hanya memperbanyak digit nilai materi saja, dan hampa dalam nilai keimanan serta berpeluang hilang keberkahannya, ketahuilah bila niat dan hasilnya dasarnya sudah menyimpang , hasil itu semua kelak akan nihil di hadapan Allah.
    Rugi sekali bagi seorang muslim, apalagi kalangan pengusaha muslim khususnya, bila meninggalkan kekuatan yang satu ini, mereka punya Allah, mereka punya peluang doanya terkabul, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik di banding orang kafir, kenapa kita harus tunduk kepada yang lainnya, bahkan melemahkan diri?
    Banyak sekali hadist Nabi maupun kisah sahabatnya yang memberikan gambaran bagaimana seorang muslim berdoa, kesemuanya merupakan karuniaNYA agar ummat islam khususnya para pengusahanya agar memiliki pegangan dan panduan dalam melangkah di kehidupan dunia ini, menjadi pengelana yang tak akan tersesat di antara ujian kehidupan berupa kelapangan maupun kesempitan.
    …………
    Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.
    Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”
    Abdullah : “Dosa dosaku”
    Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”
    Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”
    Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”
    Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”
    Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”
    Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”
    Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”
    Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”
    Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.

    Rumus Melibatkan Allah Dalam Berbisnis





    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

    Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

    Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat.

    Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya. (HR. Muslim)

    Di tengah acara sebuah komunitas wirausaha Muslim terjadi sebuah dialog untuk membangun dan mencari solusi ekonomi ummat, banyak hal yang dibahas tentang bagaimana membuka peluang usaha dan perlunya bersaing secara profesional dengan para pengusaha ‘non Muslim’ yang saat ini begitu menguasai perekonomian negeri ini, diskusi lama lama terkesan sangat teoritis, dan beberapa dari mereka terjebak kearah materialistik cara pandangnya, padahal semua yang hadir adalah kaum muslimin juga, tapi ternyata kami semua lupa, bahwa yang hadir tersebut memiliki warisan yang tak ternilai harganya. Ternyata umat Islam sudah memiliki rumusan dan standar usaha yang telah di bimbing oleh Rasul SAW dan dicontohkan oleh para sahabatnya ra, bimbingan yang sederhana, bimbingan yang sangat mendarat dan manusiawi, penuh fitrah, penuh sunnatullah, dan di-support dengan janji Allah. Allah melibatkan diriNYa atas janjiNya.

    Berdasarkan hadis shahih di atas, mari kita urai dan tinjau agar mendapatkan makna dan rumusan agar urusan ujian manusia maupun bisnis muslim ini dapat melibatkan dan tertolong oleh bantuan Allah, sebagai berikut :

    “Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak”

    Siapa sih manusia yang tidak mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Apalagi dalam menjalankan bisnis, ujian naik turun itu menjadi suatu hal yang berulang terjadinya. Ketahuilah setiap hamba Allah pasti mengalami masalah, mengalami kedukaan maupun kesukacitaan , tidak ada satupun yang terlepas dari seleksi Allah. Ujian dan cobaan kepada hamba Allah tersebut untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya.

    Justru menurut hadist di atas, dan itu adalah sunnah Allah, dikala kita mengalami kesulitan dan kesusahan dalam menghadapi ujian kehidupan, dan kita berharap sekali untuk diangkat kesulitan oleh Allah, justru salah satu solusinya adalah dengan membantu dan menyelesaikan kesusahan hamba yang lain. konsep ini sangat sulit dipahami dengan ilmu keduniaan, apalagi ilmu matematis. tapi inilah hukum Allah, inilah sunnatuLlah. inilah cara agar Allah terlibat! Mulailah dengan cara ini, niscaya permasalahan perekonomian umat akan tuntas.

    Ingatlah sebuah contoh nyata yang pernah diabadikan dalam kisah sahabat Abdurrahman bin Auf ra dengan dipersaudarakan Saad bin Rabi ra dari Madinah.

    Berkatalah Saad kepada Abdurrahman, Wahai saudaraku, aku adalah penduduk madinah yang kaya raya. Silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah, dan aku mempunyai dua isteri, pilihlah salah satu yang menurut anda lebih menarik,dan akan aku ceraikan dia supaya anda bisa memperisterinya.

    Jawab Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah memberkati anda, isteri anda dan harta anda. Tunjukkanlah jalan menuju pasar.”

    Kemudian abdurrahman menuju pasar, membeli, berdagang dan mendapat untung besar, ketahuilah Allah terlibat! Allah berkahi saling tolong menolong tersebut, saling mendahulukan kepentingan saudaranya.

    Pada suatu hari ia mendengar Rasulullah SAW, “Wahai Ibnu Auf, anda termasuk golongan orang kaya, dan anda akan masuk surga secara perlahan lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah jalan anda,” semenjak ia mendengar nasehat Rasulullah Saw tersebut, ia mengadakan pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran padanya dengan berlipatganda.

    Ibnu Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan menyimpannya. Ia mengumpulkannya dengan santai dan dari jalan yang halal, tetapi ia tidak menikmati sendirian, keluarga, kerabat saudara dan masyarakat pun ikut menikmatinya. Karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, orang orang madinah pernah berkata: “seluruh penduduk madinah berserikat (menjalin usaha) dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka, sepertiganya digunakan untuk membayar hutang hutang mereka, dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi bagikan kepada mereka.”

    Mereka saling mendahulukan kepentingan saudaranya, Allah bukakan keberkahan, Allah bukakan peluang menguasai ekonomi ummat, Pasar Madinah yang tadinya dikuasai yahudi berpindah ke tangan muslimin, berawal dari sikap tolong-menolong (ta’awun) sesama muslimin, bermula dari saling memecahkan masalah saudaranya, menjadi penguasa ekonomi saat itu, inilah hukum Allah, inilah sunnatullah.

    Inilah cara melibatkan Allah… bukan dengan cara bersaing dengan pebisnis non-muslim melalui sistem yang dibuat oleh non-muslim juga, MUSTAHIL akan tampil. Bila ingin ummat ini kembali lagi menuju kejayaannya tidak pernah terjadi dan unggul melalui sistem buatan manusia. Kalau mau tampil harus kembali bersandarkan kepada SunnatuLLah dan Sunnah RasulNya.

    Pembahasan ini membuat terhenyak para wirausaha yang hadir, diskusi terhenti dan terhenyak diam, …semoga para peserta diskusi berfikir ulang dan mulai menapak tilas sunnah yang pernah dilakukan untuk membenahi kekuatan ekonomi ummat… Tolonglah sudaramu yang sedang kesulitan…. ini adalah langkah awal menuju kejayaan. (MM)

    MENJELANG WAFAT, IMAM SYAFI’I MEMBACA SYAIR INI SAMBIL MENANGIS



    Imam Syafi’i adalah seorang ulama besar yang sulit dicari tandingannya pada zaman itu hingga zaman sekarang. Selain ilmunya luas dan dalam, amal ibadahnya juga luar biasa.

    Namun, imam yang memiliki nama asli Muhammad bin Idris itu tak pernah membanggakan diri. Apalagi ketika sakit dan merasa ajal semakin dekat. Ketika itu Al Muzani menemui Imam Syafi’i.

    “Wahai Abu Abdillah, bagaimana kondisimu?” tanya Al Muzani.
    “Aku akan pergi meninggalkan dunia,” jawab Imam Syafi’i, “akan meninggalkan saudara-saudaraku, akan bertemu dengan amal burukku, akan kembali kepada Rabbku. Aku tidak tahu apakah ruhku akan ke surga hingga mengucapkan selamat kepadanya. Atau ke neraka hingga aku mengucapkan duka cita padanya”

    Setelah itu, sambil menangis Imam Syafi’i bersyair:

    Ketika hatiku keras dan jalanku sempit
    Aku jadikan harapanku tanpa ampunan-Mu berserah
    Dosaku sangat besar ketika aku menyertainya
    Dengan ampunanMu wahai Tuhanku, ampunan-Mu lebih besar
    Engkaulah yang mengampuni segala dosa
    Engkau mahabaik dan memaafkan

    Jika Imam Syafi’i saja merasa banyak dosa, bagaimana dengan kita? Padahal Imam Syafi’i biasa membagi malamnya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis (karenanya lahirlah Al Umm, Ar Risalah, dan lebih dari 100 kitab lainnya), sepertiga untuk shalat malam, dan sepertiga untuk tidur.

    Jika Imam Syafi’i saja khawatir masuk neraka, bagaimana dengan kita? Padahal Imam Syafi’i biasa puasa sunnah dan tilawah. Beliau juga zuhud dan qanaah. Soal kedermawanan, Imam Syafi’i di zamannya adalah orang yang paling banyak bersedekah.

    Imam Syafi’i dikenal hidup sangat sederhana. Tidak jarang ia kehabisan bekal untuk satu hari itu. Namun begitu ia memiliki harta, ia segera membagi-bagikannya. Pernah suatu hari seseorang menyampaikan amanah sekantung uang kepada Imam Syafi’i yang hendak pergi ke masjid. Tiba-tiba sebelum masuk masjid ada seorang laki-laki yang menghentikannya. “Tolonglah aku wahai Imam, istriku hendak melahirkan dan aku tidak memiliki apa-apa,” pintanya dengan suara mengiba. Maka tanpa pikir panjang, Imam Syafi’i langsung memberikan kantung berisi uang tersebut kepada laki-laki itu.

    Ya Allah… ampuni kami jika selama ini kami lalai. Ampuni kami yang banyak dosa ini tetapi merasa seperti tak punya dosa kecuali dosa-dosa kecil yang mudah terampuni. Ampuni kami jika tak bisa menangis atas banyak dosa yang kami lakukan; siang dan malam. Atau justru karena terlalu banyak dosa hingga hati kami mengeras dan tak sanggup mencairkan air mata lagi. Ampuni kami… 

    Sumber :kisahikmah.com

    Alloh Tidak Pernah Terlambat



    Alhamdulillah. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar, senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

    Syaikh Ibnu Atho’illah, semoga Alloh meridhoinya, menerangkan, “Jangan menuntut Alloh karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada-Nya, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu, supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu terhadap Alloh, Tuhanmu.”

    Jadi saudaraku, jikalau kita mengenal Alloh Swt. dengan baik, maka pasti kita tidak akan protes terhadap Alloh atas apapun yang Alloh tetapkan untuk kita. Karena, Alloh adalah pencipta kita, Alloh yang memiliki diri kita, dan Alloh Maha Tahu segala permasalahan dan keperluan kita.
    Tanpa kita jelaskan kepada Alloh, sesungguhnya Alloh sudah mengetahui setiap persoalan kita dan kebutuhan kita. Karena permasalahan kita pun tidak akan ada kecuali Alloh yang mengizinkan. Kita lapar, Alloh yang menciptakan lapar. Dan, pada saat yang sama, Alloh pula yang menciptakan rezeki berupa makanan.

    Kita tidak mengerti mengapa kita harus merasakan haus. Namun, Alloh menciptakan haus itu dan sekaligus menciptakan air untuk memenuhinya. Alloh menciptakan tubuh kita ini dengan 70%-nya merupakan air. Dan, Alloh pun tahu kita tidak akan bisa bertahan lama jika hidup tanpa air. Memang ada kalanya Alloh mengizinkan tidak ada air untuk beberapa saat, namun pasti ada hikmahnya.
    Ada kalanya pula dalam keadaan lapar, Alloh menghendaki agar kita tidak langsung bertemu dengan makanan sehingga beberapa saat kita harus merasakan lapar lebih lama. Namun, pasti ada hikmahnya. Boleh jadi supaya kita bisa lebih mensyukuri nikmat Alloh, yang mana selama ini kita seringkali lupa jika makanan dengan mudah kita temukan.

    Dengan ditundanya makanan, maka ketika kita akhirnya bertemu dengan makanan meski sedikit saja, rasanya akan lebih nikmat. Kalau kita terbiasa dengan makanan yang berlimpah, maka akan kurang rasa syukurnya. Maka, untuk melatih kita pandai bersyukur, ditahanlah makanan oleh Alloh Swt.
    Oleh karena itu sahabatku, janganlah berburuk sangka kepada Alloh jikalau suatu saat ada permohonan kita atau ada kebutuhan kita yang kita rasa terlambat terpenuhi. Jangan kita buruk sangka kepada Alloh jika suatu saat kita berdoa dan berusaha sekuat tenaga, namun harapan kita mashi belum juga terwujud.

    Alloh Swt. berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun’alaih). Jangan fokus pada permohonan, keinginan, yang belum dipenuhi oleh Alloh Swt., namun fokuslah pada kekurangan kita, pada keterlambatan kita untuk menunaikan perintah Alloh dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Seperti seseorang yang belum juga mendapatkan jodoh, jangan berpikir jodohnya terlambat. Karena tindakan Alloh tidak pernah ada yang terlambat. Alloh selalu tepat waktu, memberi kita di waktu yang tepat menurut-Nya untuk kita.

    Perhatikanlah organ tubuh kita. Mata kita berkedip secara spontan tanpa ada keterlambatan. Jantung kita berdegup memompa darah, juga tanpa keterlambatan. Paru-paru kita berfungsi memompa udara juga tanpa keterlambatan. Semuanya tepat pada waktunya dan teratur. Kita seringkali lupa pada hal-hal seperti ini. Padahal kita tidak pernah meminta kepada Alloh supaya mata kita berkedip, jantung berdegup dan paru-paru bekerja tepat pada waktunya, namun semuanya beres karena Alloh Maha Tahu keperluan kita. Subhaanalloh.

    Ketika kita merasa Alloh terlambat mengabulkan doa kita, maka itu adalah bentuk buruk sangka kita kepada-Nya. Padahal mengabulkan doa bukanlah urusan kita. Urusan kita adalah berdoa kepada Alloh, karena doa adalah ibadah kita kepada-Nya. Wallohu a’lam bishowab.[]

    Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
    Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

    Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?

    Sobat, kalimat di atas sempat nggak terlintas dalam hati Anda? Sebagai seorang muslim yang baik, tentu tidaklah berani menjawab pertanyaan di atas jika tidak berdasarkan ilmu, karena ia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa`: 36).
    Nah, untuk bisa memahami jawaban dari pertanyaan di atas, simaklah ayat-ayat Al-Qur`an yang agung berikut ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
    إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
    “Sesungguhnya Allah Dialah Yang Banyak Memberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzaariyaat:58).
    وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
    “Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maa`idah:114).
    وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
    “Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki” (Al-Hajj: 58).
    وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
    “Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki” (Al-Jumu’ah: 11).
    (Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 103).
    Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
    وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
    Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).
    Allah memberitahukan di dalam ayat ini bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Sangat jelas sekali beberapa firman Allah di atas. Tidak ada satu pun di antara hamba-hamba-Nya yang beriman yang meragukan firman Allah Ta’ala di atas.
    Hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang Allah ketahuinya.
    Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. AllahTa’ala berfirman,
    وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
    “Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71).
    اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
    “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).
    Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas,
    الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم
    Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).
    Terkadang memang sebagian orang ada yang mati kelaparan dan sebenarnya ini tidaklah bertentangan dengan nama Allah Ar-Razzaaq (Yang Banyak Memberi rezeki).
    Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun.
    Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
    “Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).
    Ya memang Allah telah menentukan rezeki orang yang mati kelaparan tersebut lebih sedikit dari sebagian orang yang lain, namun ada hikmah dibaliknya yang Allah ketahui. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa saja yang cocok bagi setiap hamba-Nya dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki banyak dan siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki sedikit.

    Nasehat bagi yang mendapatkan rezeki yang sedikit

    1. Segala kenikmatan dan kesempitan yang Allah berikan hanyalah sebagai cobaan semata, bukan sebagai penghormatan atau penghinaan. Dengan cobaan itu, akan tampak orang yang bersyukur dengan orang yang bersabar, atau kebalikannya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,
      فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
      (15) “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’”.
      وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
      (16) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku'”.
      كَلَّا
      (17) “Sekali-kali tidak (demikian)” (Al-Fajr:15-17).Maksudnya bahwa hakikat persoalannya tidaklah sebagaimana yang diperkirakan oleh manusia.
    2. Sesungguhnya barangsiapa yang bersabar dengan sedikitnya rezeki di dunia dan bersabar atas keterluputan mendapatkan rezeki yang banyak di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang sangat besar di Surga dan ia akan melupakan musibah yang dirasakannya sewaktu di dunia. Bahkan satu kali celupan saja di Surga, akan menyebabkan sirnanya seluruh lelah-letih dan derita sewaktu di dunia, meski ia adalah orang yang paling menderita sewaktu di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطَُّلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
      “Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari penduduk  Surga, lalu ia dicelupkan satu kali celupan ke dalam Surga. Kemudian ditanya, ‘Wahai keturunan Adam, apakah engkau pernah melihat penderitaan sebelumnya sedikit saja? Apakah angkau pernah merasakan kesengsaraan sedikit saja?’ Orang itu berkata, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah melihat penderitaan dan tidak merasakan kesengsaraan sama sekali sebelumnya’”. (HR. Muslim).
    Semoga bermanfaat.

    Jika Ada Bagian Tubuh yang Sakit, Ini Doa dan Terapi yang Diajarkan Rasulullah



    Rasulullah mensabdakan, segala penyakit pasti ada obatnya. Karena itu beliau menganjurkan umatnya untuk berobat. Selain itu, beliau juga mengajarkan doa-doa khusus untuk sakit tertentu.

    Jika sakit yang diderita umatnya hanya terasa di bagian tubuh tertentu -misalnya kepala (semacam migrain), dada (jantung atau paru-paru), perut (mag)- beliau mengajarkan doa dan cara sebagai berikut:

    ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    “Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit dan bacalah Bismillah tiga kali, lalu bacalah “A’uudzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru” (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan)” (HR. Muslim)

    Dalam Syarah Hisnul Muslim disebutkan asbabul wurud hadits ini. Ada seorang sahabat yang bernama Utsman bin Al Ash rdhiyallahu ‘anhu yang menghadap Rasulullah dan mengeluhkan sakit pada tubuhnya sejak ia masuk Islam. Lalu Rasulullah mengajarkan doa dan cara tersebut, yaitu:
    1. Letakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit
    2. Baca bismillah tiga kali
    3. Baca doa ini tujuh kali

    أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    Artinya: Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan

    Jika kita yakin seyakin-yakinnya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, insya Allah kita akan sembuh sebagaimana kesembuhan yang dialami oleh Utsman bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu. Ustman bin Al Ash pula yang meriwayatkan hadits ini.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita dalam mengikuti sunnah Rasul-Nya serta senantiasa menjaga dan melindungi kesehatan kita dan keluarga kita. Allahumma aamiin. [Muchlisin BK/bersamadakwah]

    Sejarah WALYATALATTAF Dicetak Merah



    Asyiknya membuka lembaran demi lembaran Al Qur'an dan membaca ayat demi ayatnya. Waktu sedang asyik membaca teringat sesuatu.
    "WALYATALATTAF" Tulisan yang biasanya ditulis dengan tinta merah dalam Al Qur'an. Sebagai penanda pertengahan Al Qur'an.

    WALYATALATTAF yang bermakna LEMAH LEMBUT ayat ke 19 di Surat Al Kahfi. Tetapi tulisan berwarna merah ini sudah jarang kita jumpai di dalam Al Qur'an. Cetakan Al Qur'an Timur Tengah sebahagian besar WALYATALATTAF dicetak dengan warna hitam. Di Indonesia sebahagian besar dulunya WALYATALATTAF ditulis dengan tinta warna merah tetapi di Indonesia pun penulisan WALYATALATTAF sudah mulai dicetak berwarna hitam.

    Tahukan saudaraku semuanya kenapa WALYATALATTAF dicetak warna merah ... ???
    Ketika Utsman bin Affan ra terbunuh, simbahan darahnya mengenai mus'ab Al Qur'an tepat pada tulisan WALYATALATTAF. Maka penulisan WALYATALATTAF ditulis dengan warna merah untuk mengenang kematian Utsman bin Affan ra.

    Wallahu'alam

    KISAH BILAL & ADZAN TERAKHIRNYA



    Semenjak Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.
    Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."
    Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.
    Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

    Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?"
    Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.
    Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih.
    Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.
    Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal: "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami."
    Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal
    untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
    Bilal pun memenuhi permintaan itu.
    Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

    Mulailah dia mengumandangkan adzan.
    Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.
    Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.
    Dan saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.
    Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.
    Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

    Subhanallah... kisah diatas ini mampu mencampur adukkan perasaan kita. 
    Mampu membuat kita menitikkan airmata tanda kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, sebagaimana cinta kita pula kepada ummat Muhammad.
    Itulah pentingnya ukhuwah...
    karena ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.

    Target Ibadah di Tahun 2015...Semoga dapat Diterapkan



    Di tahun 2015 ini say mempunyai beberapa target dalam ibadah, baik hubungannya dengan Sang pencipta, Allah azza wajalla, juga hubungan horizontal antar sesama anak adam.

    Target dan cita-cita ini tidaklah muluk-muluk. Simple namun cukup berat sebetulnya...
    Ya Allah berilah kemudahan bagi hamba agar mampu menerapkan apa saja yang menjadi target dan mampu mewujudkan hajat hamba. Buat para netter kalo tidak keberatan, tolong doakan yah.... insyAllah doa dari pada sobat akan menjadi kekuatan spirit saya.

    Adapun target ibadah saya di tahun ini adalah :

    1. Sholat wajib 5 waktu
    2. Puasa sunah minimal Senin/Kamis
    3. Sholat Dluha & Tahajjud
    4. Zikir/Wirid & Sholawat tiap pagi, sore dan malam
    5. Taubatanasuha, tidak melakukan dosa-dosa yang telah lalu
    6. Infaq / Shodaqoh tiap minimal 1 minggu sekali
    7. Baca ratib Al-Haddad tiap ba'da Maghrib/Isya
    8. Memperbaiki & menambah Silaturahmi dengan seluruh umat manusia se-jagad raya
    9. Tadabbur Al-Quran minimal 1 minggu 1x
    10. Belajar Ihlash memaafkan, Sabar, Tawakkan dan rendah hati
    11. Menjadi Suami dan Ayah yang baik bagi istri dan anakku
    12. Menjaga lisan dan perbuatan 
    Semua yang saya tulis di atas adalah dalam merangka meraih cinta Allah dan Rasulullah SAW...
    Saya ingin ketika kembali pada Nya... Dia, Allah menyambutku dengan senang, dan baginda Rasul menantiku dengan gembira. Semoga diri ini mampu menerapkan dengan dawam dan khusnul khotimah, amiin ya rabbal'alamin

    Ya Allah....
    Tak ada yang mampu selamatkan aku dari segala siksa kecuali ampunan Mu..
    Ya Rasul..
    Tak ada yang aku harapkan di akherat melainkan Syafa'at dari Mu..

    ASYHADUALLAH ILLAHA ILLALLAH....
    WA ASYHADUANNA MUHAMMADURASULULLAH..